Menurut Kantor Berita ABNA, Ketegangan terjadi, Minggu (11/12/2011), di Kedutaan Besar Suriah di Jordania. Seorang pejabat kedubes menggambarkan insiden itu sebagai serangan terhadap staf Suriah. Sementara seorang aktivis menganggap insiden itu sebagai demonstrasi damai sebelum para demonstran diserang.
Laporan-laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi beragam, bergantung pada siapa yang menjadi sumber. Wakil Duta Besar Suriah untuk Jordania, Muhammad Abu Serreah, mengklaim, sekitar belasan pemrotes terlibat. Sementara seorang aktivis yang berbasis di Jordania, Omar Abdallah, mengatakan, ada enam pemrotes.
Kelompok itu mengenakan pakaian yang menarik perhatian, beberapa orang mengenakan jas dan yang lain berbaju santai ketika kedubes dibuka pada pukul 09.00, kata Serreah. Setelah memasuki gedung, mereka menanggalkan jaket dan memperlihatkan T-shirt yang mendukung oposisi Suriah, katanya.
Serreah mengatakan, kelompok itu diminta meninggalkan kedubes, tapi mereka menolak. Mereka kemudian mulai menyerang sejumlah anggota staf, termasuk dirinya, dan diplomat lain dengan tongkat. Salah satu dari mereka sempat pingsan, sementara empat orang lain menderita luka ringan, kata Serreah.
Staf kedubes mengunci pintu dan memanggil polisi, kata Serreah. Sejumlah laki-laki dalam kelompok itu mendobrak pintu dan lari untuk bergabung dengan pengunjuk rasa lain yang telah berkumpul di luar kedubes, katanya.
Aktivis oposisi, Abdallah, mengatakan, orang-orang itu datang ke kedubes di Amman untuk memperbarui paspor mereka. Setelah memperlihatkan T-shirt dengan bendera revolusi Suriah, mereka "diserang" oleh petugas keamanan Kedubes Suriah, kata Abdallah. Tiga dari para demonstran terluka dan dibawa ke rumah sakit setempat, kata Abdullah. Tiga orang lainnya ditangkap polisi Jordania, katanya.
Sebaliknya, Serreah, mengklaim bahwa polisi Jordania menangkap delapan orang di luar kedubes dan seorang penjaga menangkap yang kesembilan orang di dalam gedung. Dia menyatakan, para pemrotes lain yang terlibat dalam insiden tersebut melarikan diri.
"Saya menduga para penyerang adalah bagian dari para pemrotes mingguan yang terjadi di luar kedubes," katanya. "Serangan itu tidak dapat diterima dan melanggar aturan diplomatik, jadi saya berharap itu tidak pernah terjadi lagi."
Sumber: Kompas